Monday, December 25, 2006

Ujian dan Tergadainya Religiusitas

Selepas Maghrib, aku jalan kaki dari sekretariat menuju mahattah Bawwabah III. Saat itu, aku melihat banyak kawan-kawan mahasiswa Indonesia keluar dari masjid Sahabah. Ini bukan bulan Ramadlan. Tak biasanya kawan-kawan sholat berjama'ah di masjid. Hmm, aku masih ingat jelas: saat ini ujian.

Entah mengapa kecenderungan meningkatnya spirit religiusitas selalu tampak pada masa-masa seperti ini. Ketika ujian, mereka yang sebelumnya biasa-biasa saja dalam menjalankan ibadah formal, seketika berubah. Melakukan sholat sunnah, puasa Senin-Kamis, rutin bertahajud, tilawah Al Qur'an, bahkan ziarah makam, menjadi semacam kewajiban dalam hari-hari menjelang ujian.

Tentu fenomena ini layak diberi apresiasi. Dengan ukuran tertentu, peningkatan kuantitas ibadah bisa dijadikan indikator religiusitas seseorang. Yang dipertanyakan adalah niat: semata-mata untukNya atau sebatas untuk kelulusan saja? Silahkan menjawab, aku cuma ingin bertanya.

Kemarin ada kawan yang mengajakku untuk ziarah ke makam Imam Syafi'i di kawasan Sayyidah 'Aisyah. Karena aku masih harus menyelesaikan beberapa materi, kubilang saja aku enggan.

"Lha wong belajar aja juga belum. Kamu berangkat aja sendiri." ujarku.

"Lho? Justru karena belum belajar malah harus banyak-banyak berdoa. Selama ini aku belajarnya juga pas-pasan, tapi kok bisa najah terus? Kayaknya karena sering ziarah deh."

"Iya. Tapi kalo ntar malah dikartu kuning gara-gara cuma nengok pas butuh, gimana?"

Taufik. Istilah ini akrab sekali di telinga kawan-kawan Indonesia di Kairo. Ujian di Al Azhar tak cukup dengan belajar, harus diimbangi dengan doa, biar dapat taufik, begitu katanya. Realitanya tak jauh berbeda. Selalu saja ada kejutan ketika hasil ujian diumumkan. Si A yang belajar pas-pasan bisa naik. Padahal si B yang sudah ngos-ngosan malah gagal. Secara guyon aku bilang, bahwa di Al Azhar, bukan dosen yang mengoreksi, tapi malaikat. Meski banyak yang tertawa, sepertinya --kawan-kawan di sini-- banyak yang sepakat. Ada hal-hal tak terduga --untuk tidak mengatakan irasional-- terjadi.

Tahun lalu, ketika melihat fenomena peningkatan kuantitas ibadah menjelang ujian, aku yang masih biasa-biasa saja dalam beribadah bilang: "Tuhan bukan pedagang. Kalaupun menghendaki sesuatu, tanpa memintapun akan diberi. Memangnya manusia? Yang harus disogok dulu biar urusan lancar?"

Dan ketika hasil ujian diumumkan, batinku betul-betul remuk. Bayangkan saja, sembilan mata kuliah dinyatakan gagal. Unbelieveable. Untuk mata kuliah tertentu memang aku belum menguasai, tapi bilangan sembilan jelas sukar dipercaya. Seharusnya tak sebanyak itu. Dalam kasus semacam ini aku mencoba melakukan rasionalisasi; mungkin memang aku belum bisa mengerjakan soal dengan baik, barangkali tulisanku tak terbaca oleh dosen, barangkali ada kesalahan teknis, barangkali...

Ya. Banyak cara untuk merasionalkan sesuatu yang ganjil. Sebagaimana pula banyak cara untuk membuatnya irasional; toh jawabanku persis dengan buku, toh si A yang tak lebih menguasai materi ketimbang aku bisa lulus, toh tulisan tanganku lumayan bagus, toh...

Tahun ini, aku tak akan berani lagi mengulangi ucapan tentang Tuhan yang bukan pedagang.

(Tiba-tiba ada dialog di kepala)

"Lho Nang? Kok kamu jadi goyah begitu? Itu hal yang prinsipil, aku tahu kamu enggan berkompromi untuk hal-hal prinsip."

"Bukan goyah. Tapi siapa sih yang melarang kita untuk mengubah cara pandang akan sesuatu? Ga usah munafik, siapa sih yang ga pengen naik tingkat?"

"Dengan menggadaikan keimanan untuk hal-hal remeh seperti ujian?"

"Bullshit! Siapa bilang naik tingkat itu hal remeh? Siapa bilang memelas-melas kepada Tuhan untuk diluluskan adalah penggadaian iman?"

"Bukannya kamu?"

"Dulu. Sekarang engga."

"Ayolah Nang, aku tahu itu bukan kamu."

"Ssst! Sudah! Cukup!"

(Dialog selesai)

Dua hari lagi ujian mata kuliah Tarikh Sunnah. Ini termasuk mata kuliah bonus. Kebijakan Fakultas Ushuluddin tahun ini menyatakan bahwa mahasiswa yang tidak naik di tingkat I wajib mengikuti dua mata kuliah tambahan tahun ajaran 2006/2007. Total kopral, aku kena sembilan plus bonus dua: sebelas. Hmm, rasanya ingin misuh-misuh. Tapi nurani mengatakan itu tak baik. Permisi, hendak belajar lagi.

Oia, barang yang sudah tergadai bisa ditebus lagi bukan?

nb.
gadai (n) barang yang diserahkan sebagai tanggungan hutang.
menggadai (vt) menyerahkan barang sebagai tanggungan hutang.
tergadai (vi) sudah digadai.

2 comments:

M. Luthfi al-Anshori said...

hai nang..pa kabr?sehat aja kan!!
emm..btw tulisannya menarik juga tuh. lumayan lah, sesekali dapat membuat aku berpikir lebih dalam dan sesekali juga dapat membuat suhu dingin dalam tubuh menjadi sedikit lebih memanas. hal itu mungkin disebabkan adanya beberapa ungkapan yang perlu ditambahkan atau bahkan dikritik. bukannya aku terjebak dengan profokasi bahasamu, tapi keadaan yang kamu ungkapkan di atas memang telah menjadi fenomena rutin setiap musim ujian di Azhar, yang hal itu tentu saja bisa kita jadikan bahan renungan bersama.

Fenomena riligiusitas yang kamu gambarkan di atas memang akan menjadi naif jika hanya terlihat dan nampak ramai ketika musim ujian saja, lalu setelah itu kembali hilang, masjid sepi, sekretariat ramai, lapangan penuh, maqha dan malha kembali terisi wajah2 Asia. satu sisi memang manusia ini sungguh licik dan pengecut jika hanya mau mendekat dan mampir di rumah2 Allah ketika ada maunya saja, ketika ada masalah, atau ketika hanya sangat membutuhkan uluran tangan-Nya saja. namun di sisi lain, hal ini adalah hal yang wajar dong, ketika dalam kondisi2 tertentu orang akan lebih meningkatkan (karena sebelumnya masih biasa dan apa adanya)ibadahnya untuk mendapatkan lebih banyak lagi rahmat dan 'taufiq'Nya.

dalam kondisi lain, mungkin orang yang seperti di atas akan lebih 'baik' ketimbang orang yang sama sekali tidak mau lebih mendekatkan diri kepada-Nya, seperti halnya lebih baik mengerjakan sesuatu yang sudah terlambat dari pada sama sekali tidak mengerjakannya, selagi hal itu masih memungkinkan.

nah,...seharusnya, profil ideal seorang 'santri muslim' atau minimal seorang hamba dan abdi yang baik adalah harus bisa menyelaraskan dan memberikan proporsi yang semestinya untuk setiap bidang dan sisi kehidupan yang ada. Istiqamah memang susah. mempertahankan untuk selalu kosisten memang berat, sama halnya mempertahankan 'bi'ah' imtihan yang marak diisi amal ibadah dan taqarrub. Yah, semoga komentar ini juga bisa menjadi pecut bagi penulisnya sendiri, dan tulisan mas Nanang yang semakin arif dalam mencatat setiap fenomena yang ada di sekelilingnya juga bisa menjadi pelajaran dan peringatan bagi kita, khususnya penulisnya.

semoga setiap gerak gerik dan tindakan kita hanya diniatkan karena-Nya...lillahi ta'ala...
wallahu a'lam...
wis yo nang..mugo2 sukses lah imtihane..
cayooo..
apakah kamu mau menerima kekalahan yang sama hingga dua kali?
jawabanya ada di tangan anda???hehehehe....

Nanang Musha said...

Mas Luthfi yang baik,

aku sehat, rodo pilek2 sithik siy. tapi senang bisa membuat suhu tubuhmu meningkat hanya lewat tulisan. aku aja nulisnya sambil kedinginan. :P

aku bingung, bagian mana yang provokatif dalam tulisan? rasanya biasa-biasa wae deh tulisanku. kalo soal kritik dan tambahan (atau bahkan pengurangan) tak kira wajar lah. namanya juga masih pemula, beda dengan sampeyan yang tulisannya sudah nampang fi kulli anhai al 'alam.

soal "manusia ini sungguh licik dan pengecut" jelas bukan aku yang bilang lho! he..he..

tentang wajarnya kita mendekat kepadaNya saat butuh sesuatu, aku juga setuju. dari dulu aku juga berdoa terus supaya bisa dapat jodoh yang sexy dan solihah. namanya juga manusia, wajar dong kalo meminta sesuatu kepada Sang Pencipta.

tentang mana yang lebih baik, dalam ukuran manusia bisa jadi seperti yang kamu bilang; "lebih baik terlambat ketimbang tidak sama sekali". tambahan "selagi hal itu masih memungkinkan" semakin menguatkan argumenmu. tapi gimana ya pak, kadang-kadang hal semacam itu berkait-kelindan dengan persepsi seseorang tentang Rabb-nya. So, sampai saat ini aku masih yakin bahwa hipotesamu masih bisa diuji ulang kebenarannya.

tentang profil ideal, aku sepakat. siapa sih yang enggan jadi insan kamil? kalo engga mau mungkin sudah sutris. kalo bi'ah imtihan, menurutku malah pada suasana belajarnya. konteksnya kan belajar, bukan ibadah. meski sejatinya belajar itu kan juga ibadah, asal niatnya bener. jadi ya balik ke pertanyaan awalku dalam tulisan itu; gimana niatnya.

soal pecut, lha itu mesti to mas. saya nulis kan biar ada yang mengingatkan kalo saya lupa. soalnya daya ingatku ancen pas-pasan, kalo ga nulis ga eling. kalo sudah nulis, meski kadang aku lupa tapi kan yang lain bisa mengingatkan. untuk itu terima kasih sudah meluangkan waktu nanggepin bualan orang gagal kaya saya.

nuwun doane. semoga yang sampeyan anggap sebagai kekalahan itu tak menimpaku dua kali.