Friday, December 22, 2006

Hari Ini *

Ada yang berbeda dalam musim dingin tahun ini. Tak sama dengan tahun sebelumnya. Suhu udaranya, aku rasakan, lebih dingin, dan, karenanya lebih menyiksa.

Ya, orang boleh menganggapku wagu. Tapi, memang begitu kenyataannya. Di Qatamea hampir tak pernah aku merasa nyaman menikmati cuaca.

Maka aku nikmati saja.

Ada satu pertanyaan yang membikinku tertegun: "Dalam semua buku yang memuat kritik Islam yang ditulis oleh seorang muslim sendiri, mereka setuju mengakui bahwa kebudayaan Islam hari ini amat terbelakang dalam segala bidang. Mengapa tak ada perubahan?"

Aku membayangkan jika pertanyaan ini dilontarkan di sebuah kamar di Kampung Sembilan, akan ada diskusi panjang.

(Kuberitahu, aku membayangkan dua sosok lelaki: seorang narsis arogan bertampang culun dan seorang pendengar setia yang hanya ngomong pada akhir kesempatan)

"Ukurannya begini; kita bandingkan apa yang telah dicapai oleh kita pada abad ini, dengan apa yang dicapai oleh yang lain. Jika tidak lebih baik, berarti asumsi adanya keterbelakangan memang benar." ucap pendengar setia yang hanya ngomong pada akhir kesempatan.

(Obrolan masih berlangsung. Lumayan seru)

"Kalau kita tak boleh melukai keyakinan orang lain, mengapa cara penyampaian orang yang mengatakan hal itu justru dengan melukai keyakinan orang Islam?" tanya lelaki narsis arogan bertampang culun.

"Nyatanya dengan kuantitas yang ada, toh juga ga ada perubahan apa-apa. Kalo udah ga punya daya kreasi berarti punah dong? Apa Inggris-e? Extinct?" balas pendengar setia.

"Soal penyampaian tadi lho maksudku. Piye sih?"

"Iya. Kalo disindir engga ngerasa ujung-ujungnya dikirimi offline kan? Langsung kartu merah. Gitu kok bingung lho."

(Dan mereka tertawa)

Kesimpulan sementara hari ini; masih tentang mind-set dan tolak ukur atas sesuatu. Sementara lho. Baru sementara.

Dan saat ketemu Nadhief, aku bercerita, bahwa akhir-akhir ini aku sering nongkrong di belakang kampus, nonton buku.

Namun hari ini aku terlelap, tak jadi ke kampus, bangun dan menemukan kawan lama menyapa. Tak jadi nonton buku (lagi).

Dan kalian tak perlu bertanya kenapa aku tak berangkat ke kampus. Sebab menemukan buku bagus sementara tak punya cukup uang untuk menebus sangatlah menyakitkan. Untukku lho. Untukku.

*) Judul singkat untuk Nonton Buku dan Pertanyaan Hari Ini edisi remix. Versi aslinya di sini

2 comments:

nadhief said...

Kesalahan fatal pertama: "Di Qatamea hampir tak pernah aku merasa nyaman menikmati cuaca.

Maka aku nikmati saja."

Coba perhatikan: mengapa kata "nikmati" bisa disejajarkan secara kontradiktif begini? Ini tidak pada tempatnya, Muridku. Kontradiksi yang bagus memiliki tempatnya. Belum bisa mengerti, ya? Coba perhatikan tulisan-tulisanku. Belajarlah yang rajin, Muridku.

Huahahahahaha.....

Nanang Musha said...

Benar: "Di Qatamea hampir tak pernah aku merasa nyaman menikmati cuaca.

Maka aku nikmati saja."

Salah: melupakan kata hampir. Baca ulang nak, ada kata hampir. Kata itu berguna untuk membuka kemungkinan penggunaan kata 'nikmati'

Hmm, maaf nak, kritik sok ilmiah yang kamu sampaikan terlalu mentah. Belajar lagi nak, bahkan jika kamu gengsi untuk belajar dariku, kamu boleh mengambil guru selain aku.