Saturday, January 19, 2008

Merayakan Kediktatoran

Mubarak dan penasehatnya ada dalam pesawat di atas kota Kairo. Membawa duit $ 1,000 dia bertanya bagaimana cara memanfaatkan uang itu agar penduduk Mesir bahagia. Penasehat pertama usul agar Mubarak melemparkan uang itu lewat jendela agar satu keluarga Mesir bahagia. Penasehat kedua menyarankan agar bundelan uang dibagi dua sebelum dilempar agar ada dua keluarga berbahagia. "Tapi saya pingin semua warga senang? Gimana dong?" tanya Mubarak lagi. "Gampang saja Pak," jawab penasehat ketiga. "Kantongi saja duitnya, lalu sampeyan lompat dari pesawat. Pasti semua warga Mesir bahagia."

Pernah dengar guyonan tadi? Begitulah cara orang Mesir mengungkapkan kejengkelan atas pemerintah. Terkesan garing? Mungkin. Tapi di negeri dengan pengekangan mengeluarkan pendapat, humor jadi cara efektif untuk meluapkan kemarahan. Ok, ada banyak cara sebenarnya. Bisa lewat kotak suara, itupun kalau tak ada manipulasi dalam proses penghitungan. Mungkin juga lewat tulisan, baik di koran atau blog, asal siap jika nanti ada polisi yang tiba-tiba datang mendobrak pintu dan mengajakmu "jalan-jalan". Ikut demonstrasi juga boleh, dengan konsekuensi harus nginap di penjara, atau minimal jadi korban penyiksaan sebelum kemudian dibuang ke padang pasir seperti kasus Dr. Abdul Wahab el-Messiry beberapa hari lalu.

Begitulah. Seperti halnya para pengkritik gerakan Kifaya, kebanyakan warga Mesir lebih memilih jalur yang relatif lebih aman. Mungkin tak seberani Abdullah al-Nadim, penggerak Revolusi 1919, yang menyampaikan kritik lewat majalah humor al-Tabkit wa al-Tankit, tapi setidaknya ada nuansa perlawanan terhadap pemerintahan otoritarian.

Tema yang berkembang beragam, dari rakusnya pemerintah sampai soal loyonya pemegang otoritas keagamaan di Mesir. Tentang isu pewarisan kekuasaan kepada Gamal misalnya, disebutkan bahwa Mubarak memanggil syeikh Azhar (yang banyak disorot karena terlalu loyal kepada rezim) untuk mengeluarkan fatwa agar Gamal bisa menjadi presiden selanjutnya. Dan terkejutlah Mubarak karena sang mufti menolak sebab hal itu bertentangan dengan ayat tentang larangan menikahi ibu (penggambaran atas apa yang dilakukan Mubarak terhadap Mesir selama beberapa dekade). Dan pesan bersayapnya juga ada: Bahwa Mubarak sebagai pemimpin sekular yang keras terhadap oposisi Muslim, kerapkali bergandengan tangan dengan figur ulama atau institusi keagamaan demi legitimasi kekuasaan.

Soal monopoli bisnis oleh keluarga dan kroninya tergambar dari lelucon soal sekaratnya Mubarak. "Apa jadinya bangsa Mesir tanpa saya?", tanya sang presiden menjelang ajal. Si penasehat, untuk menenangkan sang presiden, bilang bahwa bangsa Mesir akan baik-baik saja, toh selama ini mereka biasa hidup susah dan bisa "makan batu". Mendengar itu, cepat-cepat ia mengeluarkan dekrit presiden tentang monopoli perdagangan batu untuk Ala, putra tertuanya yang usahawan itu.

Jika hidup hanya melulu berisi kegetiran, maka kemampuan untuk menertawakan diri sendiri (baca: pemerintah) bisa jadi penawar ampuh. Rakyat kecil yang berada di luar kekuasaan dan tampak diam, pada akhirnya mengembangkan pola komunikasi tersendiri untuk melawan rezim. Dan bukan mustahil jika kelak mayoritas yang terbungkam tadi tak bisa lagi menahan diri dan memilih cara lain untuk berbicara. Sepanjang 2006, ada 220 aksi protes di penjuru Mesir. Bandingkan dengan laporan Land Centre for Human Rights yang menyatakan bahwa setidaknya ada 283 aksi massa pada paruh pertama 2007. Well, quite huge number isn't it?

Mungkin masih jauh panggang dari api jika membayangkan Revolusi Roti (Intifadzat al-Hubz) tahun 1977 terulang lagi. Toh menurut LCHR, mayoritas aksi protes di tahun 2007 menyoal kenaikan gaji buruh. Belum menyentuh isu-isu "kolektif" seperti pencabutan subsidi bahan pokok atau lengsernya sang Fir'aun. Sementara penduduk Mesir sedang berproses untuk sadar, memunguti joke-joke politik bisa menjadi alternatif membunuh bosan kan? Seperti Fastball yang bilang, "there is always more than one way to say exactly what you mean to say", biarlah lelucon-lelucon itu jadi cara merayakan kediktatoran.

Friday, January 11, 2008

Pertanyaan Tentang Hijrah

Siang. Beberapa menit selepas adzan berkumandang. Terik matahari tak cukup menghangatkan badanku. Kencang hembusan angin menjilati tubuh setengah basah oleh sisa air wudlu membuatku kian menggigil saja. Duduk di bagian belakang jama'ah beralas sajadah terlipat setengah, kudengarkan khatib dengan seksama. Agak janggal memang, saat ingin menghadirkan diri secara penuh menyimak khutbah, justru aku tak bisa menangkap secara utuh apa yang ia sampaikan. Heran, padahal dengan bahasa fusha, bahasa Arab baku, yang sudah pasti lebih mudah kucerna ketimbang bahasa Arab 'ammiyah. Tak apa, pikirku. Toh nanti ada juga yang nyangkut di kepala.

Dan ya. Seperti yang aku terka, sang khatib berbicara tentang hijrah. Cukup panjang ia bertutur tentang pindahnya Nabi Muhammad dari Makkah menuju Madinah. Apesnya, hanya sedikit yang aku tangkap. Salah satunya tentang kecemasan Abu Bakr al-Shidq saat menemani Nabi menempuh perjalanan. Pertama kali aku mendengar cerita ini dari Ibu. Beliau membacakan kepada kami, putra-putranya, salah satu buku dari seri sejarah Islam untuk anak. Konspirasi membunuh Nabi, keberanian Ali menggantikan Nabi di tempat tidur, kegalauan Abu Bakr saat bersembunyi di gua.

Ingatan tentang Ibu seketika lenyap mendengar khatib berucap, "La tahzan. Inna Allaha ma'ana." Oia, kalimat tadi yang terucap dari mulut Nabi untuk menenangkan kamerad-nya Abu Bakr. Saat itu kan Abu Bakr sampai menangis. Kalau tak salah bapaknya 'Aisyah itu digigit ular, berjaga-jaga agar tak ada ular yang keluar dan menggigit Nabi. Dan ting-tong, tanda tanya besar muncul di pikiranku, "Dulu, saat hijrah, lagi musim apa ya? Kalo misalnya lagi musim dingin ya pasti bener-bener ga enaklah. Lha wong aku aja siang-siang begini udah ampun-ampun. Kalau malam gek kaya apa..."

Aku senyum-senyum sendiri. Kok bisa pertanyaan "sepenting" itu baru muncul sekarang, setelah usiaku hampir seperempat abad. Untung (atau buntung? Entahlah) dahulu, saat mengabdi di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) tak ada murid yang bertanya soal itu. Coba kalau saat itu ada yang tanya, samber ganteng aku pasti kelimpungan. Memang sih, kecil kemungkinan untuk muncul pertanyaan itu. Indonesia hanya punya dua musim bukan? Nyatanya, aku sendiri bertanya soal itu juga baru sekarang, setelah mencicipi musim dingin di Mesir. Lagian kan tak ada riwayat tentang kehujanan saat hijrah, ya wajar kalau tak ada yang nanya.

Hmm, jadi ingat adik-adik TPA deh. Lebih-lebih yang hiperaktif (baca: bandel). Masak jadwal masuk TPA kudu ngalah kalau lagi ada pertandingan bola di Stadion Manahan? Yang putra (termasuk aku juga :P) sih ok-ok saja. Lha mbak-mbaknya pada mencak-mencaklah menyaksikan aksi bolos berjama'ah.

Lalu hening. Baru sadar ini sudah jeda antara dua khutbah. Gila, batinku. Khutbah sepanjang itu, hanya kalimat la tahzan saja yang terekam di kepalaku?

Dan khutbah berlanjut. Ringkasan tentang hikmah di balik hijrah Nabi. Boleh juga pikirku. Ketimbang mengulang-ulang soal arti hijrah dan segala derivasinya, Khatib lebih menekankan tentang keberanian dan ketabahan kamerad-kamerad pendukung dakwah Nabi. Singkat saja sebelum kemudian berdoa bersama.

Lantas sholat. Di raka'at kedua konsentrasiku pecah. Tanda tanya soal musim kembali terlintas dalam pikiran. Oalah, susah memang kalau iman masih kelas kancut. Baru dua raka'at saja sudah lari kemana-mana.

Seusai salam, berjalan bareng Masao dan Abahe Rofiq. Bertanyalah aku, "Oed, pas hijrah dulu musim apa ya? Kalau musim dingin mesti kasian banget. Kita aja baru di kamar tanpa selimut udah mati-mati."

"Wah. Embuh kiy. " jawab Masao.

"Aku kok penasaran ya? Kira-kira musim apa gitu."

"Indonesia kan ga ada musim dingin. Ya ga mikir sampe segitunyalah."

Dan kucing tetanggapun tahu, aku sudah memikirkan pernyataan itu sejak khatib menyampaikan khutbah awal. Ah, nanti kubaca lagi sirah Nabawiyah.

Catatan:
1. Di sesela menulis postingan ini, jawaban sudah aku temukan. Di musim gugur ternyata, peralihan antara musim dingin menuju musim panas. Hoho, aku bisa tidur dengan tenang malam ini.

2. Aku teringat perempuan itu. Ia yang kerapkali bertanya, "Tadi khutbahnya apa?"

Sunday, December 30, 2007

Re: Kematian Kecil

Surat balasan dari kawan bermimpi, tempat saya pulang ketika memulai pencarian identitas. Haha, dia pasti mencak-mencak jika menemukan tulisan ini. Tapi tak apa, anggaplah ini ganti untung atas catatan harian saya yang ia curi dan ia jahit ulang, lantas dengan semena-mena ia muat di media kampus tempat kawan saya tadi kuliah. Hell yeah!

Date : Wed, 26 Dec 15:47:31 -0800 (PST)

From : padma*****@gmail.com

Subject : Re: Kematian Kecil

To : "Nanang Musha" (n4n4n6m5@yahoo.com)

Salam juga Pak,

Kaget juga melihat namamu di inbox surelku. Kukira kau sudah mati. Ups, sori... sori... kamu masih seneng gojek to le? :P

Pertama, kamu ga perlu minta maaf. Aku ga nunggu kamu. Yen kata anaknya Emha, "kau datang dan pergi begitu saja. Semua kutrima apa adanya." Iya kalo lagi waras, isa dicagerna. Lha kalo lagi kumat? Sampe lumuten ya ga bakalan beredar. Jangankan orangnya, yang kamu bilang mau nyari rekaman band-band Metal berbahasa Arab, sampai sekarang juga belum nyampe. Kalo alesanmu scene musik Timur Tengah ga mendukung untuk itu, yo ra masuk akal. Kalo niat nyari, aturan kan mesti ada, at least di internet. Nyari di myspace kek, apa kek. Kok yo kebangeten men!

Dua, kamu dulu yang sering ngomong jangan gampang ngerasa jadi korban. Kalo itu diterus-terusin, ya sampe kiamat bebanmu ga bakal kurang. Yang ada malah nambah. Heran aku, asline awakmu yen lagi niat, yang mustahilpun bisa jadi nyata kok. Mbok ngelingi jaman jahiliyah dulu. Semua orang geleng-geleng pas kamu bilang mau ke Mesir. Petruk dadi ratu yen jare wong Jogja. Lha gitu kok kelakon? Malah beasiswa pula. Aku bisa keliatan gagah koyo saiki kan usaha mati-matian. Sementara kamu yang dulunya urip nyantai, keluyuran tanpa tujuan yang jelas, kok tetep iso diajeni wong liya?

Aku ngerti kamu paling cuma mesam-mesem yen lagi diceramahi kaya gini. Dan paling-paling kamu ntar mbalesi gini, "Dapurmu pak, mbiyen yen ora ketemu aku opo ra wis dadi bathang." Iya kan? Aku maturnuwun marang awakmu, bener. Kamu yang dulu bisa bikin aku yakin, walau jadi sampah, minimal jadi sampah organik. Di mana dia ada, di situ tanah subur. Nah, kalo sekarang dibalik, sejauh mana tingkat kesuburanmu? Seberapa besar peranmu di komunitasmu, di lingkunganmu? Jajal kapan-kapan kamu cerita.

Aku setuju dengan ucapan pacarmu itu. Toh kamu juga sadar, kondisinya sudah lain, berbeda jauh dengan saat awal-awal kamu di sana. Semoga sisa-sisa tenagamu masih cukup untuk bertarung di sini. Kamu ngerti kan, kota ini udah ga seindah dulu. Bukannya udah ga ada orang baik sih. Mungkin masih, cuman ga kaya dulu lagi. Gara-gara itu juga aku jadi percaya sama omonganmu soal idola. Itu lho, yang kamu bilang jangan mudah silau karena kita kadang-kadang ga terlalu kenal sama seseorang. Miris Nang rasane, lihat orang-orang yang dahulu ngomong dengan berbusa-busa tentang sesuatu yang luhur, sekarang jadi sama najisnya dengan apa yang mereka cela.

Kalau hidup emang pilihan, sulit juga menyalahkan mereka yang memilih menjadi Usman ketimbang Abu Dzar. Lha wong Guevara wae kan sempat dadi mentri to? Arep piye jal? Poinnya, ga akan ada yang menyalahkan kamu kalo kamu emang dengan kesadaran berhenti jadi bohem dan mulai menjadikan anak istri sebagai pertimbangan sebelum melangkah. Tapi ingat lho bos, tenan engga itu yang dimaui kamu? Bener engga bojomu ga merasa bersalah karena kamu kudu kompromi? Apike kamu ngomonglah dulu, ke dia, ke rumah Solo juga, piye apike. Yen dalan lurus ngapain juga kudu banting setir?

Emang berat nebus kebebasan itu. Istilahe Camus: pencinta kebebasan sejati adalah mereka yang menerapkan kebebasan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Yen longgar coba pelajari siroh Eduardo Santos dari Kolombia. Menarik itu, kalau lihat istiqomahnya dia memperjuangkan kebebasan, ga cuma untuk kelompok sendiri namun juga kepada lawan politik dia.

Akhirnya, kamu banyak-banyak ngukur dirilah. Aku kadang khawatir juga kalo kamu lagi kumat arogannya. Bener optimis, tapi kudu dijaga juga terbangnya. Jatuh tu ga enak.

Udah ya. Aku nulise di warnet je, billing kok mlayune koyo setan. Kapan-kapan tak sambung lagi. Pesenku, mumpung masih di sana, kudu ada transformasi. Jangan cuma wacana aja. Mosok bacaan Arab, Inggris, Prancis, pacaran masih Indonesia, Jawa pisan!

Hehehe.. gojek Jhon. Yen sida liburan mrene bojomu diajak yo, pengen ngerti aku.

Nuwun,

Tuesday, October 9, 2007

Kecemasan

Seseorang bilang; acapkali orang mencemaskan masa depan, padahal ia tak cukup mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.

Kadang aku begitu. Dihantui kecemasan akut akan sesuatu yang belum tampak, sementara mengeja apa yang adapun aku tak bisa. Saat itu terjadi, biasanya aku cepat-cepat menarik diri. Semacam jeda untuk membaca ulang diri. Masalahnya, kontemplasi membutuhkan waktu. Dan hanya orang tolol yang tak tahu kalimat bijak bestari berikut; waktu tak pernah menunggu. Maka selalu saja ada kesenjangan antara hasil perenungan dengan realitas yang digeluti. Maksudku, ketika merasa selesai dengan satu persoalan, muncul pula persoalan-persoalan lain untuk dituntaskan. Ini bisa memicu masalah besar. Dan ya, aku mengalaminya beberapa hari terakhir. Ketika beberapa orang dalam jejaring sosialku menuntut terlalu banyak di saat harus memecah konsentrasi dalam beberapa hal. Jelas, ada tarik ulur kepentingan di sini. Ujung-ujungnya konflik lagi, belajar dewasa lagi.

Hmm, semuanya akan baik-baik saja. Semoga.