Siang. Beberapa menit selepas adzan berkumandang. Terik matahari tak cukup menghangatkan badanku. Kencang hembusan angin menjilati tubuh setengah basah oleh sisa air wudlu membuatku kian menggigil saja. Duduk di bagian belakang jama'ah beralas sajadah terlipat setengah, kudengarkan khatib dengan seksama. Agak janggal memang, saat ingin menghadirkan diri secara penuh menyimak khutbah, justru aku tak bisa menangkap secara utuh apa yang ia sampaikan. Heran, padahal dengan bahasa fusha, bahasa Arab baku, yang sudah pasti lebih mudah kucerna ketimbang bahasa Arab 'ammiyah. Tak apa, pikirku. Toh nanti ada juga yang nyangkut di kepala.
Dan ya. Seperti yang aku terka, sang khatib berbicara tentang hijrah. Cukup panjang ia bertutur tentang pindahnya Nabi Muhammad dari Makkah menuju Madinah. Apesnya, hanya sedikit yang aku tangkap. Salah satunya tentang kecemasan Abu Bakr al-Shidq saat menemani Nabi menempuh perjalanan. Pertama kali aku mendengar cerita ini dari Ibu. Beliau membacakan kepada kami, putra-putranya, salah satu buku dari seri sejarah Islam untuk anak. Konspirasi membunuh Nabi, keberanian Ali menggantikan Nabi di tempat tidur, kegalauan Abu Bakr saat bersembunyi di gua.
Ingatan tentang Ibu seketika lenyap mendengar khatib berucap, "La tahzan. Inna Allaha ma'ana." Oia, kalimat tadi yang terucap dari mulut Nabi untuk menenangkan kamerad-nya Abu Bakr. Saat itu kan Abu Bakr sampai menangis. Kalau tak salah bapaknya 'Aisyah itu digigit ular, berjaga-jaga agar tak ada ular yang keluar dan menggigit Nabi. Dan ting-tong, tanda tanya besar muncul di pikiranku, "Dulu, saat hijrah, lagi musim apa ya? Kalo misalnya lagi musim dingin ya pasti bener-bener ga enaklah. Lha wong aku aja siang-siang begini udah ampun-ampun. Kalau malam gek kaya apa..."
Aku senyum-senyum sendiri. Kok bisa pertanyaan "sepenting" itu baru muncul sekarang, setelah usiaku hampir seperempat abad. Untung (atau buntung? Entahlah) dahulu, saat mengabdi di TPA (Taman Pendidikan Al-Qur'an) tak ada murid yang bertanya soal itu. Coba kalau saat itu ada yang tanya, samber ganteng aku pasti kelimpungan. Memang sih, kecil kemungkinan untuk muncul pertanyaan itu. Indonesia hanya punya dua musim bukan? Nyatanya, aku sendiri bertanya soal itu juga baru sekarang, setelah mencicipi musim dingin di Mesir. Lagian kan tak ada riwayat tentang kehujanan saat hijrah, ya wajar kalau tak ada yang nanya.
Hmm, jadi ingat adik-adik TPA deh. Lebih-lebih yang hiperaktif (baca: bandel). Masak jadwal masuk TPA kudu ngalah kalau lagi ada pertandingan bola di Stadion Manahan? Yang putra (termasuk aku juga :P) sih ok-ok saja. Lha mbak-mbaknya pada mencak-mencaklah menyaksikan aksi bolos berjama'ah.
Lalu hening. Baru sadar ini sudah jeda antara dua khutbah. Gila, batinku. Khutbah sepanjang itu, hanya kalimat la tahzan saja yang terekam di kepalaku?
Dan khutbah berlanjut. Ringkasan tentang hikmah di balik hijrah Nabi. Boleh juga pikirku. Ketimbang mengulang-ulang soal arti hijrah dan segala derivasinya, Khatib lebih menekankan tentang keberanian dan ketabahan kamerad-kamerad pendukung dakwah Nabi. Singkat saja sebelum kemudian berdoa bersama.
Lantas sholat. Di raka'at kedua konsentrasiku pecah. Tanda tanya soal musim kembali terlintas dalam pikiran. Oalah, susah memang kalau iman masih kelas kancut. Baru dua raka'at saja sudah lari kemana-mana.
Seusai salam, berjalan bareng Masao dan Abahe Rofiq. Bertanyalah aku, "Oed, pas hijrah dulu musim apa ya? Kalau musim dingin mesti kasian banget. Kita aja baru di kamar tanpa selimut udah mati-mati."
"Wah. Embuh kiy. " jawab Masao.
"Aku kok penasaran ya? Kira-kira musim apa gitu."
"Indonesia kan ga ada musim dingin. Ya ga mikir sampe segitunyalah."
Dan kucing tetanggapun tahu, aku sudah memikirkan pernyataan itu sejak khatib menyampaikan khutbah awal. Ah, nanti kubaca lagi sirah Nabawiyah.
Catatan:
1. Di sesela menulis postingan ini, jawaban sudah aku temukan. Di musim gugur ternyata, peralihan antara musim dingin menuju musim panas. Hoho, aku bisa tidur dengan tenang malam ini.
2. Aku teringat perempuan itu. Ia yang kerapkali bertanya, "Tadi khutbahnya apa?"
Friday, January 11, 2008
Sunday, December 30, 2007
Re: Kematian Kecil
Surat balasan dari kawan bermimpi, tempat saya pulang ketika memulai pencarian identitas. Haha, dia pasti mencak-mencak jika menemukan tulisan ini. Tapi tak apa, anggaplah ini ganti untung atas catatan harian saya yang ia curi dan ia jahit ulang, lantas dengan semena-mena ia muat di media kampus tempat kawan saya tadi kuliah. Hell yeah!
Date : Wed, 26 Dec 15:47:31 -0800 (PST)
From : padma*****@gmail.com
Subject : Re: Kematian Kecil
To : "Nanang Musha" (n4n4n6m5@yahoo.com)
Date : Wed, 26 Dec 15:47:31 -0800 (PST)
From : padma*****@gmail.com
Subject : Re: Kematian Kecil
To : "Nanang Musha" (n4n4n6m5@yahoo.com)
Salam juga Pak,
Kaget juga melihat namamu di inbox surelku. Kukira kau sudah mati. Ups, sori... sori... kamu masih seneng gojek to le? :P
Pertama, kamu ga perlu minta maaf. Aku ga nunggu kamu. Yen kata anaknya Emha, "kau datang dan pergi begitu saja. Semua kutrima apa adanya." Iya kalo lagi waras, isa dicagerna. Lha kalo lagi kumat? Sampe lumuten ya ga bakalan beredar. Jangankan orangnya, yang kamu bilang mau nyari rekaman band-band Metal berbahasa Arab, sampai sekarang juga belum nyampe. Kalo alesanmu scene musik Timur Tengah ga mendukung untuk itu, yo ra masuk akal. Kalo niat nyari, aturan kan mesti ada, at least di internet. Nyari di myspace kek, apa kek. Kok yo kebangeten men!
Dua, kamu dulu yang sering ngomong jangan gampang ngerasa jadi korban. Kalo itu diterus-terusin, ya sampe kiamat bebanmu ga bakal kurang. Yang ada malah nambah. Heran aku, asline awakmu yen lagi niat, yang mustahilpun bisa jadi nyata kok. Mbok ngelingi jaman jahiliyah dulu. Semua orang geleng-geleng pas kamu bilang mau ke Mesir. Petruk dadi ratu yen jare wong Jogja. Lha gitu kok kelakon? Malah beasiswa pula. Aku bisa keliatan gagah koyo saiki kan usaha mati-matian. Sementara kamu yang dulunya urip nyantai, keluyuran tanpa tujuan yang jelas, kok tetep iso diajeni wong liya?
Aku ngerti kamu paling cuma mesam-mesem yen lagi diceramahi kaya gini. Dan paling-paling kamu ntar mbalesi gini, "Dapurmu pak, mbiyen yen ora ketemu aku opo ra wis dadi bathang." Iya kan? Aku maturnuwun marang awakmu, bener. Kamu yang dulu bisa bikin aku yakin, walau jadi sampah, minimal jadi sampah organik. Di mana dia ada, di situ tanah subur. Nah, kalo sekarang dibalik, sejauh mana tingkat kesuburanmu? Seberapa besar peranmu di komunitasmu, di lingkunganmu? Jajal kapan-kapan kamu cerita.
Aku setuju dengan ucapan pacarmu itu. Toh kamu juga sadar, kondisinya sudah lain, berbeda jauh dengan saat awal-awal kamu di sana. Semoga sisa-sisa tenagamu masih cukup untuk bertarung di sini. Kamu ngerti kan, kota ini udah ga seindah dulu. Bukannya udah ga ada orang baik sih. Mungkin masih, cuman ga kaya dulu lagi. Gara-gara itu juga aku jadi percaya sama omonganmu soal idola. Itu lho, yang kamu bilang jangan mudah silau karena kita kadang-kadang ga terlalu kenal sama seseorang. Miris Nang rasane, lihat orang-orang yang dahulu ngomong dengan berbusa-busa tentang sesuatu yang luhur, sekarang jadi sama najisnya dengan apa yang mereka cela.
Kalau hidup emang pilihan, sulit juga menyalahkan mereka yang memilih menjadi Usman ketimbang Abu Dzar. Lha wong Guevara wae kan sempat dadi mentri to? Arep piye jal? Poinnya, ga akan ada yang menyalahkan kamu kalo kamu emang dengan kesadaran berhenti jadi bohem dan mulai menjadikan anak istri sebagai pertimbangan sebelum melangkah. Tapi ingat lho bos, tenan engga itu yang dimaui kamu? Bener engga bojomu ga merasa bersalah karena kamu kudu kompromi? Apike kamu ngomonglah dulu, ke dia, ke rumah Solo juga, piye apike. Yen dalan lurus ngapain juga kudu banting setir?
Emang berat nebus kebebasan itu. Istilahe Camus: pencinta kebebasan sejati adalah mereka yang menerapkan kebebasan, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Yen longgar coba pelajari siroh Eduardo Santos dari Kolombia. Menarik itu, kalau lihat istiqomahnya dia memperjuangkan kebebasan, ga cuma untuk kelompok sendiri namun juga kepada lawan politik dia.
Akhirnya, kamu banyak-banyak ngukur dirilah. Aku kadang khawatir juga kalo kamu lagi kumat arogannya. Bener optimis, tapi kudu dijaga juga terbangnya. Jatuh tu ga enak.
Udah ya. Aku nulise di warnet je, billing kok mlayune koyo setan. Kapan-kapan tak sambung lagi. Pesenku, mumpung masih di sana, kudu ada transformasi. Jangan cuma wacana aja. Mosok bacaan Arab, Inggris, Prancis, pacaran masih Indonesia, Jawa pisan!
Hehehe.. gojek Jhon. Yen sida liburan mrene bojomu diajak yo, pengen ngerti aku.
Nuwun,
Tuesday, October 9, 2007
Kecemasan
Seseorang bilang; acapkali orang mencemaskan masa depan, padahal ia tak cukup mengerti apa yang sedang terjadi saat ini.
Kadang aku begitu. Dihantui kecemasan akut akan sesuatu yang belum tampak, sementara mengeja apa yang adapun aku tak bisa. Saat itu terjadi, biasanya aku cepat-cepat menarik diri. Semacam jeda untuk membaca ulang diri. Masalahnya, kontemplasi membutuhkan waktu. Dan hanya orang tolol yang tak tahu kalimat bijak bestari berikut; waktu tak pernah menunggu. Maka selalu saja ada kesenjangan antara hasil perenungan dengan realitas yang digeluti. Maksudku, ketika merasa selesai dengan satu persoalan, muncul pula persoalan-persoalan lain untuk dituntaskan. Ini bisa memicu masalah besar. Dan ya, aku mengalaminya beberapa hari terakhir. Ketika beberapa orang dalam jejaring sosialku menuntut terlalu banyak di saat harus memecah konsentrasi dalam beberapa hal. Jelas, ada tarik ulur kepentingan di sini. Ujung-ujungnya konflik lagi, belajar dewasa lagi.
Hmm, semuanya akan baik-baik saja. Semoga.
Kadang aku begitu. Dihantui kecemasan akut akan sesuatu yang belum tampak, sementara mengeja apa yang adapun aku tak bisa. Saat itu terjadi, biasanya aku cepat-cepat menarik diri. Semacam jeda untuk membaca ulang diri. Masalahnya, kontemplasi membutuhkan waktu. Dan hanya orang tolol yang tak tahu kalimat bijak bestari berikut; waktu tak pernah menunggu. Maka selalu saja ada kesenjangan antara hasil perenungan dengan realitas yang digeluti. Maksudku, ketika merasa selesai dengan satu persoalan, muncul pula persoalan-persoalan lain untuk dituntaskan. Ini bisa memicu masalah besar. Dan ya, aku mengalaminya beberapa hari terakhir. Ketika beberapa orang dalam jejaring sosialku menuntut terlalu banyak di saat harus memecah konsentrasi dalam beberapa hal. Jelas, ada tarik ulur kepentingan di sini. Ujung-ujungnya konflik lagi, belajar dewasa lagi.
Hmm, semuanya akan baik-baik saja. Semoga.
Monday, September 17, 2007
Mereka Berbahagia, Sebenarnya
"Saya pengen tinggal di kampung Om. Mungkin, di pedalaman sekalian. Jauh dari hiruk pikuk peradaban yang riuh. Yang dalam kata sampeyan cuma berisi iklan, baliho, konsumerisme akut yang cuma bikin pengen muntah..."
"Bangun di pagi hari dan menghirup harum sirih. Mandi di sungai lalu berangkat; mengajar anak-anak mengeja a, b, c, d. Hmm, cita-cita petualang."
"No no. Ga seagung itu. Justru saya lelah. Ingin bersembunyi saja. Menjauh dari sesuatu yang mereka bilang agung dan sakral."
"Sayangnya, orang-orang seperti kita tak akan sampai hati berdiam diri. Berlagak pilon, pura-pura tak sadar ada arus besar yang menggerus sisi kemanusiaan kita. "
"Haha. Mungkin begitu. Pasti kita terpanggil."
"Atau dipanggil?"
"Apapunlah."
"Ya apapunlah. Sampai kita kelelahan. Tak sempat lagi membaca buku-buku di rak berdebu karena semakin jarang disentuh, tak sempat lagi bersantai di tepian Nil, tak sempat lagi mengisi kekosongan batin."
"Tak ada waktu lagi untuk mencari rekaman-rekaman baru, film-film bermutu."
"Perpustakaan. Antum kapan terakhir ke sana?"
"Iya. Hahaha."
"Dan kita merasa lelah. Sangat lelah."
"Hmm, tapi... sebenarnya kita bahagia kan?"
"Mungkin. Kita bahagia sebenarnya, menelusuri jalan sepi pelancong ini sendirian, penuh kesakitan."
Dan kamar kembali senyap. Dua lelaki muda haus identitas haus orisinalitas yang bernasib sama denganku: terdampar di kota tua; tempat sejarah ditorehkan sejak ribuan tahun lalu.
Aku --yang pura-pura tidur--bangun. Memeriksa jam lewat ponsel. Minum air dari botol plastik yang tinggal separuh. Cuci muka di kamar mandi. Pipis. Ke kamar lagi. Minta pamit kepada salah satu dari mereka --yang lain sudah rebah dengan mata terpejam-- lalu segera beranjak pergi.
Di luar, langit semakin hitam. Sangat. Sangat gelap.
"Bangun di pagi hari dan menghirup harum sirih. Mandi di sungai lalu berangkat; mengajar anak-anak mengeja a, b, c, d. Hmm, cita-cita petualang."
"No no. Ga seagung itu. Justru saya lelah. Ingin bersembunyi saja. Menjauh dari sesuatu yang mereka bilang agung dan sakral."
"Sayangnya, orang-orang seperti kita tak akan sampai hati berdiam diri. Berlagak pilon, pura-pura tak sadar ada arus besar yang menggerus sisi kemanusiaan kita. "
"Haha. Mungkin begitu. Pasti kita terpanggil."
"Atau dipanggil?"
"Apapunlah."
"Ya apapunlah. Sampai kita kelelahan. Tak sempat lagi membaca buku-buku di rak berdebu karena semakin jarang disentuh, tak sempat lagi bersantai di tepian Nil, tak sempat lagi mengisi kekosongan batin."
"Tak ada waktu lagi untuk mencari rekaman-rekaman baru, film-film bermutu."
"Perpustakaan. Antum kapan terakhir ke sana?"
"Iya. Hahaha."
"Dan kita merasa lelah. Sangat lelah."
"Hmm, tapi... sebenarnya kita bahagia kan?"
"Mungkin. Kita bahagia sebenarnya, menelusuri jalan sepi pelancong ini sendirian, penuh kesakitan."
Dan kamar kembali senyap. Dua lelaki muda haus identitas haus orisinalitas yang bernasib sama denganku: terdampar di kota tua; tempat sejarah ditorehkan sejak ribuan tahun lalu.
Aku --yang pura-pura tidur--bangun. Memeriksa jam lewat ponsel. Minum air dari botol plastik yang tinggal separuh. Cuci muka di kamar mandi. Pipis. Ke kamar lagi. Minta pamit kepada salah satu dari mereka --yang lain sudah rebah dengan mata terpejam-- lalu segera beranjak pergi.
Di luar, langit semakin hitam. Sangat. Sangat gelap.
Subscribe to:
Posts (Atom)