1
Iya. Seminggu lalu lebaran. Tapi aku merasa biasa-biasa saja. Datar. Tanpa greget. Biasanya orang-orang gembira ketika lebaran tiba. Entah karena apa. Mungkin karena hari itu mereka bertemu dengan banyak orang. Mungkin karena hari itu mereka memakai baju baru. Mungkin.
Ada pula yang merasa sedih ketika lebaran tiba. Sebagian karena tak bisa merasakan suasana Idul Fitri yang gemerlap. Sebagian karena merasa kehilangan setelah berpisah dengan Ramadlan. Dengan kelompok yang terakhir ini, aku merasa hormat. Rasanya konyol saja, bulan puasa lewat kok malah senang. Seharusnya sedih. Seharusnya.
Ok, siapa pula yang mengharuskan kita untuk sedih? Sepertinya tidak ada. Sepertinya. Tapi ada kawan yang bilang bahwa malam lebaran adalah lailatul jaizah. Semacam pembagian rapor atau pengumuman hasil ujian. Makanya wajar dong jika ada yang merasa sedih. Boleh jadi mereka merasa gagal memanfaatkan bulan puasa sebagai lumbung amal. Nah, makanya wajar juga dong, jika saya merasa ganjil? Ramadlan lewat kok malah ceria. Seharusnya mereka merasa kehilangan. Seharusnya.
Tiba-tiba ada kawan yang membaca tulisan ini. Dia bilang, emang kamu yakin rapor kamu bagus di bulan puasa ini?
"Kamu ga baca paragraf pertama ya?" jawabku.
Aku merasa biasa-biasa saja. Datar. Tanpa greget.
2
Iya. Sudah hampir tiga minggu aku menggarap kumpulan cerpen. Terus terang, kerja semacam ini selalu membuat aku kelimpungan. Menghubungi penulis, meminta naskah, menyortir mana yang sesuai dan mana yang tidak, menyunting sekaligus mengedit. Belum termasuk disain sampul, ilustrasi, dan menyiapkan pengantar. Sungguh, meski aku tak benar-benar mengerjakan semuanya sendirian, kerja semacam ini sungguh melelahkan. Sungguh melelahkan.
Baiklah. Secara teknis memang tak sulit. Meski begitu, dalam hidup selalu saja ada hal-hal kecil yang membuat laju sesuatu jadi tak linier. Pernahkah kamu berjalan di luar rumah dengan suasana hati yang cerah, ketika kamu merasa seakan-akan seluruh dunia sedang berlagu untukmu, namun tiba-tiba saja kakimu menginjak tahi? Nah, kira-kira semacam itu yang aku rasakan sekarang. Tentu aku merasa gemes, geregetan, sekaligus jengkel. Tapi siapa yang rela dimaki-maki? Rasanya tak ada. Bahkan mereka yang --entah sengaja atau tidak-- buang kotoran di jalan. Pasti mereka --yang buang kotoran sembarangan tadi-- akan bilang begini, "Salah sendiri. Jalan ga pasang mata. Toh yang lain juga ga nginjek tahi kan?"
Lalu aku tersenyum. Rasanya benar. Memang aku yang salah. Rasanya.
Oh, terima kasih untuk Adon dan Muhib yang tidak banyak protes karena komputer di sekretariat sering aku serobot untuk merampungkan tugas. Juga untuk kawan-kawan serumah; Nadhief, Anung, dan Amin untuk pengertian karena aku harus sering keluar rumah, pulang menjelang pagi bahkan tak kembali dua-tiga hari. Terima kasih pula untuk semua orang yang terlibat dalam pengerjaan kumcer, baik yang kooperatif atau tidak, baik yang ikhlas atau terpaksa.
Eh, aku tidak sedang mengeluh lho! Sungguh. Aku tidak sedang mengeluh. Rasanya memang aku sendiri yang salah. Rasanya.
3
Mana yang kamu pilih; sepucuk pistol kosong atau beberapa butir peluru? Apa katamu? Kamu pilih pistol berpeluru penuh? O, itu tidak masuk dalam alternatif pilihan.
Begitulah. Nadhief bilang dia ingin mengisi peluru. Aku tahu, dia belum punya pistol. Tapi aku sependapat dengannya. Beberapa butir peluru lebih berbahaya ketimbang pistol kosong. Maka jika hanya ada dua pilihan, jangan salahkan kami yang memilih untuk mengumpulkan peluru terlebih dahulu. Kamu akan bilang bahwa kami terlalu naif. Silahkan saja. Setiap orang bebas menentukan pilihan bukan?
Kami sangat sadar, di dunia ini banyak orang punya pistol. Tapi kami bukan tak tahu, banyak dari mereka lupa bahwa pistol di genggaman mereka sudah kosong. Bagi yang tak tahu, orang-orang semacam itu akan tampak gagah. Betapa tidak? Lha wong mereka bisa petentang-petenteng bawa senjata kok. Iya. Mereka akan tampak gagah. Bisa menakut-nakuti orang seperti di film-film koboi. Tapi aku tidak takut, pistol kosong tak akan membuatku mati. Paling-paling bikin pingsan jika dihantamkan ke tengkuk, seperti di film-film mafia.
"Emang kamu yakin pistol mereka kosong?" tanya kawan yang menemaniku menulis catatan ini.
"Yakin. Yakin sekali."
"Kok bisa?" tanya dia lagi.
"Ini." jawabku sembari merogoh kantong jaket yang penuh dengan peluru.
Ok. Aku ulangi lagi. Mana yang kamu pilih: sepucuk pistol kosong atau beberapa butir peluru?
Kampung Sembilan, 30 Agustus 2006.
Tuesday, October 31, 2006
Thursday, September 14, 2006
Tentang Katak Junior dan Induknya
Tak perlu bertanya mengapa saya memakai judul di atas. Yang pasti saya tak ingin menjadi katak berotak besar dalam tempurung kecil. Apalagi menjadi katak berotak kecil dalam tempurung kecil.Apa? Jangan tanya bagaimana? Temukan sendiri bagaimana membebaskan diri dari tempurung. Kalau saya tahu, buat apa saya harus tertohok ketika menemukan komik itu.
p.s gambar diambil dengan setia dari maduracun. Thanks ya bro!
Friday, September 1, 2006
Omong Kosong (1)
Betulkan apa yang diomongkan orang Inggris? There is nothing new under the sun. Selama matahari masih terbit dari timur dan tenggelam di barat, tetap saja dunia hanya akan berisi hal-hal yang sama. Bukan berarti sama persis, tapi kok rasa-rasanya tak ada perkembangan yang cukup signifikan untuk didiskusikan.
Tempo hari ada yang bertanya kepadaku, "Mas, menurut anda pemikiran (Islam-pen) liberal itu bagaimana?" Tentu saja saya menjawab itu dengan pertanyaan susulan, "Memang menurut anda definisi liberal itu apa?"
Nah lho! Yang bertanya tadi malah bingung sendiri. Akhirnya dengan panjang lebar ia menguraikan definisi liberal yang memang nggladrah kemana-mana. Saya jelas hanya bisa manggut-manggut sembari tersenyum. Lantas kawanku tadi mengeluh soal ketidak-konsistenan dalam mengambil sebuah sikap. Kataku, "Ya mungkin saja mas. Toh setiap orang akan berkembang. Jika sudah merasa cukup dan berhenti berarti sudah saatnya dia mati."
"Lalu pendapat anda tentang Islam liberal tadi bagaimana?"
Aku ingat sebuah ucapan yang (seingatku) dinisbatkan kepada Edward Said. Katanya, memberi definisi adalah bentuk imperialisme.
"Gini aja deh mas, saya akan berdiri di titik aman saja." jawabku.
"Kok curang begitu?"
"Ya engga curang dong. Soalnya saya memang belum cukup mumpuni untuk memutuskan berada di barisan mana."
"Kalo memang harus memilih??"
"Lho? Siapa yang mengharuskan? Perintahnya kan 'udhulu fi as-silmi kaffah'. Siapa juga yang mengharuskan saya memakai label tambahan?"
"He..he.. bener juga ya mas. Kenapa juga kita harus pake label-label?"
Lalu kawanku bertutur tentang paradoks yang sering terjadi saat ini. Di saat kelompok Islam liberal-progresif mengolok-olok kelompok radikal-fundamentalis, tanpa disadari mereka juga menjadi sama ekstremnya dengan yang diolok-olok. Nah, berarti keduanya sama-sama berdiri di kutub keras kepala. Berikutnya tentang perlunya pondasi keilmuan yang mapan. Menurutnya tanpa itu seseorang hanya akan terombang-ambing kesana-kemari tanpa punya identitas yang jelas. Tentang itu, saya jelas sepakat. Orang yang bisa bersentuhan dengan realitas dan bisa melihat secara utuh yang punya otoritas untuk berpendapat. Ups! Saya kok jadi sok tahu ya? Entahlah. Semoga tak menjadi katak berotak besar dalam tempurung yang kecil.
"Kalo soal Perda syari'ah gimana mas?"
"Wah, sebenarnya ga terlalu intens mengkaji masalah itu. Seharusnya sampeyan yang intens studi di fakultas Syari'ah yang memberi masukan untuk saya." jawabku.
"Kalo lempar-lemparan begitu yang kena anak Syari'ah Qanun dong?"
Kami tertawa ngakak. Tentu saja menertawakan diri sendiri atas ketidakberdayaan dalam mengkaji masalah-masalah yang dekat dengan realitas.
"Kalo saya nggak setuju mas. Soalnya Indonesia itu kan macem-macem. Yang namanya nation-state itu kan udah bentukan final."
"Om, sampeyan tadi nanya perda lho! Bukan negara syari'at." ucapku mengingatkan.
"Maksud saya begitu, toh kalo memang daerahnya mayoritas Muslim saja juga masih warna-warni kan? Nanti yang dipakai madzhab apa coba?"
"Masalahnya bukan pada syari'ahnya solih li kulli makan wa zaman (aplicable di semua ruang dan waktu-pen), lagi-lagi ini soal label."
"Kok bisa gitu?"
"Sebab harus dibedakan antara syari'ah dan fiqh. Beda lho, ibaratnya syari'ah itu jiwa dan fiqh itu raga. Benar bahwa muaranya satu; Islam itu sendiri. Tapi syari'ah merupakan teks-teks yang mencakup wilayah teologi, yurisprudensi, serta etika."
"Kalo fiqh?"
"Fiqh ya cenderung berbentuk diktum-diktum terperinci dari nash Al-Qur'an maupun Sunnah. Ia lahir melalui nalar dan tak bisa lepas dari pengaruh sosio-kultur dimana ia lahir."
"Termasuk pengaruh antropologis-geografis?"
"Pasti. Kan jelas sekali contohnya. Misalnya kenapa kok Ibnu Hazm memilih menjadi seorang Zahirian yang tekstualis-skripturalis? Sebabnya ulama-ulama di Andalusia saat itu cenderung menarik-narik nash kemana-mana mentang-mentang ada Qiyas. Mungkin Ibnu Hazm jengkel terus mencak-mencak, "Udah deh! daripada dibawa kemana-mana mendingan kita baca apa adanya saja." Kira-kira begitu," tuturku.
"Jadi kesimpulannya bagaimana mas?"
"Waduh, sampeyan tanya sendiri aja sama anak-anak SQ. Udah dibilang ga begitu paham masalah itu. Kapan-kapan saja ngobrolnya dilanjutkan."
Tempo hari ada yang bertanya kepadaku, "Mas, menurut anda pemikiran (Islam-pen) liberal itu bagaimana?" Tentu saja saya menjawab itu dengan pertanyaan susulan, "Memang menurut anda definisi liberal itu apa?"
Nah lho! Yang bertanya tadi malah bingung sendiri. Akhirnya dengan panjang lebar ia menguraikan definisi liberal yang memang nggladrah kemana-mana. Saya jelas hanya bisa manggut-manggut sembari tersenyum. Lantas kawanku tadi mengeluh soal ketidak-konsistenan dalam mengambil sebuah sikap. Kataku, "Ya mungkin saja mas. Toh setiap orang akan berkembang. Jika sudah merasa cukup dan berhenti berarti sudah saatnya dia mati."
"Lalu pendapat anda tentang Islam liberal tadi bagaimana?"
Aku ingat sebuah ucapan yang (seingatku) dinisbatkan kepada Edward Said. Katanya, memberi definisi adalah bentuk imperialisme.
"Gini aja deh mas, saya akan berdiri di titik aman saja." jawabku.
"Kok curang begitu?"
"Ya engga curang dong. Soalnya saya memang belum cukup mumpuni untuk memutuskan berada di barisan mana."
"Kalo memang harus memilih??"
"Lho? Siapa yang mengharuskan? Perintahnya kan 'udhulu fi as-silmi kaffah'. Siapa juga yang mengharuskan saya memakai label tambahan?"
"He..he.. bener juga ya mas. Kenapa juga kita harus pake label-label?"
Lalu kawanku bertutur tentang paradoks yang sering terjadi saat ini. Di saat kelompok Islam liberal-progresif mengolok-olok kelompok radikal-fundamentalis, tanpa disadari mereka juga menjadi sama ekstremnya dengan yang diolok-olok. Nah, berarti keduanya sama-sama berdiri di kutub keras kepala. Berikutnya tentang perlunya pondasi keilmuan yang mapan. Menurutnya tanpa itu seseorang hanya akan terombang-ambing kesana-kemari tanpa punya identitas yang jelas. Tentang itu, saya jelas sepakat. Orang yang bisa bersentuhan dengan realitas dan bisa melihat secara utuh yang punya otoritas untuk berpendapat. Ups! Saya kok jadi sok tahu ya? Entahlah. Semoga tak menjadi katak berotak besar dalam tempurung yang kecil.
"Kalo soal Perda syari'ah gimana mas?"
"Wah, sebenarnya ga terlalu intens mengkaji masalah itu. Seharusnya sampeyan yang intens studi di fakultas Syari'ah yang memberi masukan untuk saya." jawabku.
"Kalo lempar-lemparan begitu yang kena anak Syari'ah Qanun dong?"
Kami tertawa ngakak. Tentu saja menertawakan diri sendiri atas ketidakberdayaan dalam mengkaji masalah-masalah yang dekat dengan realitas.
"Kalo saya nggak setuju mas. Soalnya Indonesia itu kan macem-macem. Yang namanya nation-state itu kan udah bentukan final."
"Om, sampeyan tadi nanya perda lho! Bukan negara syari'at." ucapku mengingatkan.
"Maksud saya begitu, toh kalo memang daerahnya mayoritas Muslim saja juga masih warna-warni kan? Nanti yang dipakai madzhab apa coba?"
"Masalahnya bukan pada syari'ahnya solih li kulli makan wa zaman (aplicable di semua ruang dan waktu-pen), lagi-lagi ini soal label."
"Kok bisa gitu?"
"Sebab harus dibedakan antara syari'ah dan fiqh. Beda lho, ibaratnya syari'ah itu jiwa dan fiqh itu raga. Benar bahwa muaranya satu; Islam itu sendiri. Tapi syari'ah merupakan teks-teks yang mencakup wilayah teologi, yurisprudensi, serta etika."
"Kalo fiqh?"
"Fiqh ya cenderung berbentuk diktum-diktum terperinci dari nash Al-Qur'an maupun Sunnah. Ia lahir melalui nalar dan tak bisa lepas dari pengaruh sosio-kultur dimana ia lahir."
"Termasuk pengaruh antropologis-geografis?"
"Pasti. Kan jelas sekali contohnya. Misalnya kenapa kok Ibnu Hazm memilih menjadi seorang Zahirian yang tekstualis-skripturalis? Sebabnya ulama-ulama di Andalusia saat itu cenderung menarik-narik nash kemana-mana mentang-mentang ada Qiyas. Mungkin Ibnu Hazm jengkel terus mencak-mencak, "Udah deh! daripada dibawa kemana-mana mendingan kita baca apa adanya saja." Kira-kira begitu," tuturku.
"Jadi kesimpulannya bagaimana mas?"
"Waduh, sampeyan tanya sendiri aja sama anak-anak SQ. Udah dibilang ga begitu paham masalah itu. Kapan-kapan saja ngobrolnya dilanjutkan."
Monday, June 12, 2006
Kisah Di Tepi Mississippi
Nak, kau bertanya tentang sungai itu. Maka hari akan kuceritakan kisah yang pernah terjadi diantara aliran sungai yang indah dan menyimpan sejarah. Di sebuah waktu, di sebuah kota kecil bernama St. Petersburg hidup seorang anak nakal, gelandangan alkoholic bernama Huck. Kau akan mengira ini cerita yang membosankan. Sabar dulu anakku, nanti kau akan tahu bagaimana ia mengalami petualangan yang merubah cara seseorang memandang hidup.
Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan, itu kata orang. Sayangnya, ada kalanya omongan itu benar. Bapak Huck seorang alkoholik juga, suatu malam dalam kondisi mabuk ia mengancam akan membunuh Huck, anak yang lahir dari darahnya sendiri. Huck beruntung anakku, ia akhirnya diadopsi oleh seorang perempuan bernama Watson. Dalam kenyamanan secara materi, Huck bertemu dengan Jim, budak hitam yang cerdas dan bijak.
Waktu berlalu. Jim akan dijual ke Selatan. Konon wilayah selatan Amerika saat itu lebih keras dan lebih liar, terutama dalam memperlakukan budak hitam seperti Jim. Jim memutuskan untuk melarikan diri. Huck tahu dan ia ingin ikut, hidup dalam kemewahan tak selamanya membuatnya merasa nyaman. Keduanya pergi dengan rakit menyusuri Mississippi. Menjalani pelarian yang penuh kecemasan namun sarat pelajaran.
Malang tak dapat ditolak. Sebuah kapal uap menabrak rakit yang mereka tumpangi. Mereka tenggelam dan terpisah. Disinilah petualangan sejati mulai terjadi. Huck yang sudah menganggap Jim sebagai figur seorang ayah harus berupaya sendiri untuk menempuh hidup. Begitupula Jim yang merasa bersyukur dipertemukan dengan Huck, harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Kau tentu akan protes, apa asyiknya bersembunyi di semak belukar, berlari dari kejaran anjing penjaga dalam malam gelap. Tentu tak ada yang indah dari kisah itu anakku, tapi dari sini kau bisa belajar bahwa secara naluri manusia punya jiwa eksploitasi. Mencoba mengambil keuntungan dari sesuatu diluar dirinya. Persoalannya adalah bagaimana cara dia mengelola naluri jahat itu. Kau tahu anakku, Jim yang akhirnya tertangkap kemudian dimerdekakan oleh nona Watson. Kemudian Huck yang liar akhirnya diadopsi oleh keluarga terhormat.
Apakah cerita selesai sampai disini? Tidak. Kisah belum usai. Huck memberontak dan memilih lari menuju tanah Indian. Tanah yang murni dari kebusukan moral berbungkus kemajuan peradaban. Meski begitu, kita sama-sama tahu: rakit yang murni dan sederhana tadi pada akhirnya ditenggelamkan oleh kemajuan; kapal uap.
p.s Bapak, terima kasih untuk kekayaan yang kau wariskan untuk kami. Meski komik sederhana itu baru bisa aku resapi maknanya pagi tadi. Delapan tahun untuk bisa membaca kembali kisah klasik itu.
Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan, itu kata orang. Sayangnya, ada kalanya omongan itu benar. Bapak Huck seorang alkoholik juga, suatu malam dalam kondisi mabuk ia mengancam akan membunuh Huck, anak yang lahir dari darahnya sendiri. Huck beruntung anakku, ia akhirnya diadopsi oleh seorang perempuan bernama Watson. Dalam kenyamanan secara materi, Huck bertemu dengan Jim, budak hitam yang cerdas dan bijak.
Waktu berlalu. Jim akan dijual ke Selatan. Konon wilayah selatan Amerika saat itu lebih keras dan lebih liar, terutama dalam memperlakukan budak hitam seperti Jim. Jim memutuskan untuk melarikan diri. Huck tahu dan ia ingin ikut, hidup dalam kemewahan tak selamanya membuatnya merasa nyaman. Keduanya pergi dengan rakit menyusuri Mississippi. Menjalani pelarian yang penuh kecemasan namun sarat pelajaran.
Malang tak dapat ditolak. Sebuah kapal uap menabrak rakit yang mereka tumpangi. Mereka tenggelam dan terpisah. Disinilah petualangan sejati mulai terjadi. Huck yang sudah menganggap Jim sebagai figur seorang ayah harus berupaya sendiri untuk menempuh hidup. Begitupula Jim yang merasa bersyukur dipertemukan dengan Huck, harus melakukan segala sesuatunya sendiri. Kau tentu akan protes, apa asyiknya bersembunyi di semak belukar, berlari dari kejaran anjing penjaga dalam malam gelap. Tentu tak ada yang indah dari kisah itu anakku, tapi dari sini kau bisa belajar bahwa secara naluri manusia punya jiwa eksploitasi. Mencoba mengambil keuntungan dari sesuatu diluar dirinya. Persoalannya adalah bagaimana cara dia mengelola naluri jahat itu. Kau tahu anakku, Jim yang akhirnya tertangkap kemudian dimerdekakan oleh nona Watson. Kemudian Huck yang liar akhirnya diadopsi oleh keluarga terhormat.
Apakah cerita selesai sampai disini? Tidak. Kisah belum usai. Huck memberontak dan memilih lari menuju tanah Indian. Tanah yang murni dari kebusukan moral berbungkus kemajuan peradaban. Meski begitu, kita sama-sama tahu: rakit yang murni dan sederhana tadi pada akhirnya ditenggelamkan oleh kemajuan; kapal uap.
p.s Bapak, terima kasih untuk kekayaan yang kau wariskan untuk kami. Meski komik sederhana itu baru bisa aku resapi maknanya pagi tadi. Delapan tahun untuk bisa membaca kembali kisah klasik itu.
Subscribe to:
Posts (Atom)